Anak anak mereka bicara apa saja merdeka bagai di surga pada bunga diceritakan kupu kupu yang terkoyak sayapnya pada daun diceritakan tetang neneknya yang selalu menyapunya
I. PILIH JAWABAN YANG PALING BENAR DENGAN MEMBERI TANDA SILANG (X) PADA HURUF a, b, c ATAU d DI LEMBAR JAWABAN YANG TERSEDIA! Bacalah teks berikut ,kemudian kerjakan soal nomor 1 s.d. 4! Pantang Menyerah untuk Sekolah Karya Andhik Prastiarto (1)Danu adalah anak dari orang yang kurang mampu, ibunya meninggal saat Danu berumur 2 tahun. Sepeninggal ibunya, keluarganya menjadi berantakan , ayah Danu mempunyai banyak hutang kepada rentenir untuk mencukupi keluarganya, uang hasil kerja sebagai penyapu jalanan saja tidak cukup untuk menghidupi keluarganya. (2) Suatu ketika, Danu diberi surat dari Pak Dadang, guru Danu, Surat itu ia berikan kepada ayahnya, ternyata isi surat tersebut adalah Danu diminta untuk membayar uang sekolah yang sudah menunggak selama 4 bulan. Danu berfikir apakah ia bisa melanjut-kan sekolah atau tidak. (3) Danu sudah 3 hari tidak masuk sekolah,ia berusaha mencari uang bersama ayahnya untuk membiayai se...
Ranting Patah Kalau ada yang berdetak kering oleh musim hujan angin telah patahkan sendi nadi sel kayu kambium kering dan daun coklat melayang ke lembah jauh seperti awan di malam kelam pohon itu menangis seperti bayi seperti haus akan susu ibu menjerit oleh retak ranting angin yang terpelanting pada dingin pada harap yang tak kan tergapai bulan Leberingin, 18 Desember 2009
KABUT PAGI DI BUKIT LAWET Sudah seminggu Rubiah berlibur ke desa. Ia tinggal bersama bibinya dalam suasana damai di lereng bukit Lawet yang permai. Warga desa yang ramah, saling berkunjung, saling menolong, membuat Vena seperti berada dalam alam yang berbeda. Kedamaian itu tiba-tiba berubah ketika seorang pemuda bernama Angin mendekatinya dan mencoba mencari perhatiannya. Dengan cara-cara yang aneh, Angin mencoba mencari perhatiannya. Menawarkan bantuan, mengasih buah durian, dan lain-lain yang menurut Rubiah berlebihan. Ketika ia ceritakan pada Bekti, sepupunya, ia lebih kaget lagi karena menurut Bekti tidak ada pemuda di desa ini yang bernama Angin. Sampai akhirnya pada suatu pagi, Rubiah terkesima. Di bukit sebelah desanya, ia meliha Angin sedang duduk di atas sebuah batu besar. Wajahnya bercahaya dan kabut putih di sekelilingnya membuat ia seperti terapung. Ia menyapa Rubiah : Assalamualaikum. Terima kasih kau telah kembali. Rubiah tak bisa berkata-kata. Ia le...
Komentar
Posting Komentar